Keseimbangan Jasmani & Rohani

Samsul Arif S.Pd.I

Agama Islam menuntut para pemeluknya untuk memperhatikan kepentingan jasmaninya dan sekaligus harus memeperhatikan kepentingan rohaninya, dan juga menuntut stiap muslim berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan gidup di dunia dan juga kebahagian hidup di akhirat. Oleh karina itu setiap muslim diperintahkan untuk membaca doa seperti diajarkan dalam Al Qur’an, yang artinya: … Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Setiap muslim dilarang untuk meninggalkan urusan duniawi, karena menyibukkan diri dengan urusan akhirat, demikian pula sebalinya. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw, telah bersabda yang artinya: bukanlah yang paling baik dari kamu sekalian orang yang meninggalkan duninya untuk akhiratnya dan bukan pula orang yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya, sehingga dia memperoleh keseluruhan dari keduanya (dunia dan akhirat).

Dalam hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad saw bersabda yang artinya: Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Tamaklah engkau pada apa saja yang memberi manfaat bagi kamu. Mintalah tolong kepada Allah dan jangan pesimis (merasa lemah). Dan juga pada sesuatu yang menimpa engkau, janganlah engkau berkata: “Andai kata aku aku melakukan begini, misalnya akan terjadi begini; akan tetapi katakanlah “Allah telah menentukan, karena kata “andai kata” itu membuka peluang bagi pekerjaan syaitan.

Dalam hadits tersebut di atas, Rosulullah saw, menetapkan bahwa orang mukmin yang kuat itu Lebih utama dari pada orang mukmin yang lemah dan lebih dicintai oleh Allah swt. Dan bahwa pada masing-masing dari keduanya terdapat sebagian dari kebaikan, yaitu karena beriman. Kemudian Rosulullah saw, secara global menerangkan bahwa kekuatan itu terletak pada empat faktor, yaitu:

a. Tamak terhadap setiap sesuatu yang bermanfaat
b. Memohon pertolongan kepada kekuatan Allah swt, yang tidak dapat dilemahkan oleh sesuatupun
c. Terus menerus menghadapi pekerjaan dengan tekun, pantang menyerah dan tanpa merasa lemah (pesemis)
d. Sabar pada waktu tertimpa musibah tanpa membiarkan dirinya dipermaikan oleh angan-angan dan tidak tunduk kepada godaan setan.

Faktor yang pertama menuntut setiap mukmin untuk selalu sadar terhadap setiap kesempatan yang dapat dipergunakan dan diambil faedahnya. Setiap sesuatu yang mem beri manfaat orang mukmin dalam kehidupan di dunia ini dan kehidupan di akhiratm wajib bagi setiap mukmin utnuk tamak terhadapnya dan bekerja untuk mendapatkannya. Dalam hal dunia, wajib bagi setiap mukmin untuk mengusahakan dari jalan yang halal. Dalam hal pangkat, wajib bagi setiap mukmin untuk mengerahkan kemampuanya guna mencapainya dengan cara yang wajar dan baik. Dalam hal ilmu, wajib bagi setiap mukmin untuk tidak menyimpan kemampuannya. Dalam hal akhlaq yang mulia yang dapat diperoleh dengan tujuan, mengekang nafsu dan bersabar, maka wajib bagi orang mukmin untuk memperoleh bagian yang terbesar. Dalam hal agama, maka yang Jelassetiap mukmin wajib menyangatkan ketamakan nya untuk menjadi bekal bagi kehidupannya di akhirat, dan berusaha untuk mengambil faidah dalam kehidupan di dunia.

Faktor yang kedua, yaitu memohon pertolo ngan Allah. Setiap mukmin selalu memerlukan pertolongan Allah swt. Allah memerintahkan kepada kita sekalian untuk membaca pada setiap rokaan dari setiap sholat: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, artinya: Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Untuk faktor yang ke tiga ini, kami ketengahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra, bahwa Rosulullah saw, dalam doa beliau selalu mengucapkan: “Allahumma inni a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal bukhli”, artinya: Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon perlindungan kepadamu dari sifat pesimis, malas, licik dan kikir. Dari doa Rosulullah saw tersebut dapat diambil pengertian, bahwa agama Islam itu membenci sifat malas, memerangi sifat berpura-pura tawakal (berserah diri kepada Allah) dan tidak rela apabila orang mukmin itu menjadi lemah sehingga dihina orang lain atau menjadi pemalas sehingga meminta-minta kepada orang lain atau menjadi penganggur sehinga menjadi orang yang tidak berguna. Padahal orang mukmin itu seharusnya melebihi orang lain, menjadi orang yang kaya dan orang yang mulia.

Faktor ke empat adalah menutup pintu lamunan dan angan-angan yang batal karena orang mukmin itu wajib menyiapkan dirinya untuk kehidupan di hari esok dan bukan untuk hari kemarin. Dan hendaklah orang mukmin itu mengerjakan pekerjaan yang sedang dihadapi dan jangan menjadi orang yang bermimpi dan tertipu oleh angan-angan dan lamunan. Jika setiap manusia dalam kehidupan di dunia ini kadang-kadang dihadapkan kepada kegagalan dari usahanya dan pada suatu ketika menjadi sasaran dari kejadian. Maka hendaklah dia menghadapi apa yang merintangi jalannya dengan jiwa mukmin yang sejati, yaitu menyadari bahwa rintangan tersebut adalah sudah menjadi ketentuan dan kehendak Allah swt yang tidak dapat dielakkan, sehingga dia harus mengulangi bekerja dan barusaha dengan keyakinan akan sampai pada sasaran tujuannya.

Sesungguhnya setiap mukmin itu wajib memiliki keyakinan bahwa ketentuan Allah swt itu tidak mungkin berubah seandainya dia mengejakan selain apa yang dia kerjakan. Misalnya: penyakit yang menjadi penyebab kematiannya adalah tidak mungkin dapat sembuh andai kata ada dokter lain yang mengobati. Putusan pengadilan yang merugikan dirinya adalah tidak mungkin membawa keberuntungannya andaikata ada seorang pembela yang masyhur yang membela. Jika demikian, maka tidaklah bijaksana bahkan tidak benar apabila ia mengatakan: “andaikata perkara itu demikian, maka akan terjadi demikian. Yang bijaksana adalah jika dia meninggalkan apa yang sudah terjadi agar perhatiannya sepenuh nya dapat ditujukan kepada apa yang akan terjadi, seluruh kemampuannya dikerahkan untuk bekerja, sehingga apa yang telah lewat tidak menjerumuskannya dalam jurang penyesalan dan tidak mengajaknya bercumbu rayu setan dalam lamunan yang tidak membuahkan kecuali penyesalan yang sia-sia dan kesibukan hati dengan hal-hal yang tidak berfaedah serta menyia-nyiakan waktu dalam hal-hal yang tidak membuatnya kaya.

Tinggalkan Balasan