Mariatul Ulfa S.Pd
Jalinan sayang yang semakin renggang
Fenomena susahnya menjalin silaturrahim agaknya sudah menjadi wabah umum para penghuni kota-kota besar. Tak lekat dengan kerabat, tak kenal keluarga besar, tak punya waktu untuk saling mengunjungi bahkan sekedar bertukar sapa lewat surat, E-mail, atau telepon tak lagi teringat. Dari waktu ke waktu rutinitas hidup seolah hanya diisi dengan jadwal demi jadwal yang begitu padat hingga tak menyisakan ruang bagi kunjungan pada para kerabat.
Mulai dari dekat, secara bahasa, Ar-rahim berarti kasih sayang atau kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Ar-rahim secara umum dimaksudkan untuk para kerabat dekat, yang memiliki garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi ataupun tidak, mahram atau tidak.
Sementara Silah berarti menyambungkan. Arti luasnya adalah upaya-upaya menyambung kan kasih sayang, kebaikan, hubungan kekerabatan baik yang terbentuk karena garis darah ataupun garis keturunan.
Dalam kontek dakwah, silaturrohmi dikembangkan jauh kepada setiap muslim, karena setiap muslim pada hakekatnya adalah saudara dan berhak mendapatkan jalinan kasih sayang, dihormati, dikunjungi, disambungkan kebaikan-kebaikan kepadanya, serta ditolaknya keburukan-keburukan atasnya. Namun, hubungan silaturrahim antar kerabat tetap harus diutamakan, sebagaimana Allah telah mengisyaratkan bahwa menjalin hubungan dakwah pertama kali adalah kepada keluarga dekat.
Pengertian wa andzir ‘asyirotakal aqrobin, dan sampaikanlah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang terdekat. Ini menjadi penegas bahwa kewajiban menyampaikan (berdakwah) semestinya diawali dari pihak terdekat yaitu keluarga. Kalu dakwah saja diperintahkan untuk dimulai dari yang dekat, yaitu keluarga, apalagi hubungan kasih sayang, kelembutan dan kebaikan dalam silaturrahim yang salah satu maknanya berarti hubungan kekerabatan. Kebiasaan masyarakat umum sekarang, mereka lebih mementingkan teman, relasi kerja. Mereka kurang memperhatikan kerabat-kerabat yang lebih dekat (hubungan darah atau hubungan perkawinan). Contoh nyatanya adalah pada waktu hari raya, mereka lebih mengutamakan pergi ke rumah teman-teman, relasi kerja, bahkan lebih senang mereka pergi picnic, mereka lupakan menyambung silaturrohim dengan kerabat. Pemberian paket lebaran juga begitu, teman atau relasi kerja, atasan, itu yang mereka utamakan. Diberikanlah paket lebaran yang mewah-mewah, sedangkan kerabat mereka lupakan. Padahal menurut Islam kerabatlah yang lebih diutamakan, terutama mereka yang tidak mempu dalam hal ekonomi.
Maka bercerminlah pada Rosulullah saw, kita bisa belajar bahwa silaturrahim adalah basis dari meluasnya kebaikan yang berkesesuaian dengan misi Rosul sebagai pembawa rohmat bagi seluruh alam. Menjaga hubungan silaturrohim dengan keluarga adalah langkah dakwah secara strategis, sebab siapa lagi orang yang bisa diandalkan untuk mensupot diri kita dalam susah dan senang kecuali kerabat?. Tak heran bila menjalin silaturrahim punya sekala tinggi dalam Islam, hingga mereka yang memutuskannya diancam dengan acaman terlaknat dan dimasukkan nereka.
Jaring pengaman kehidupan
Psikolog Leira Hevyta mengatakan, peran keluarga dan kerabat diketahui sangat besar dalam menopang kesetabilan emosi hingga keberhasilan hidup seseorang. Karena, “keluarga dan kerabat bisa menjadi jaring pengaman sesudah tetangga”. Contoh:
Bila tetangga adalah jaring pengaman pertama. Bila kita mengalami musibah atau masalah, maka keluarga dan kerabat adalah jaring pengaman berikut yang meliputi jaring pengaman social, emosi, hingga fisik. Sebab ada hal-hal yang tidak bisa kita sharing (curhat) pada tetangga dan hanya bisa dilakukan pada keluarga.
Kalau selama ini kita tak pernah menjalin hubungan, tak pernah hangat, lalu tiba-tiba datang disaat ada masalah, kerabatpun tentu canggung penuh tanda tanya dan berfikir, emangnya kamu siapa? Selama ini kemana saja? Udah susah, baru muncul. Karena itulah jangan abaikan hubungan silaturrahim, dalam segala kesempatan, baik lapang maupun sempit, senang atau susah, suka maupun duka.
Jangan sempitkan pintu silaturrohim
Sayangnya, dengan alasan kesibukan dan gaya hidup modern, ajaran untuk memperkuat hubungan silaturrahim makin tergerus. Silatur rohim yang diriwayatkan sebagai pembawa rizki, pemanjang umur, bertambahnya kecintaan keluarga, tidak lagi disambut gembira.
Buka selalu tangan dan hati dengan lapang dada, dan terima tamu apa adanya tanpa kepura-puraan. Karena, yang penting keutamaan silaturrohim yang harus diingat, tentu dengan menjaga adap-adap silaturrohim (QS. An-Nur : 27-28), menyebutkan bahwa setiap orang termasuk kerabat harus tetap mendapat izin dan menyampaikan salam sebelum bertamu. Kebiasaan nyelonong datang dan masuk rumah, baik merasa sudah tetangga dekat atau kerabat harus dihilangkan.
Dengan penjagaan adap di kedua belah pihak, tentu tak ada lagi alasan silaturrahim sulit terjalin. Apalagi di masa sekarang, sekalipun kesempatan untuk kunjung mengunjungi kerabat banyakdibatasi waktu kerja, kuliah atau dana. Bukankah masih ada hubungan telepon, SMS, atau surat yang bisa dikirimkan?. Maka mari kita rutinkan kembali usaha menjalin silaturrahim ini mulai dari sekarang.
Berikut tips-tips menyuburkan silaturrahim:
1.Teruslah berhubungan
Ditengah segala kesibukan, usahakan terus menyisihkan waktu untuk sekedar bertukar kabar lewat telepon, atau sekedar SMS. Dengan sanak keluarga, terutama bila kerabat kita tinggal berjauhan. Tentunya perhatian kita, bukan tak mungkin akan di balas dengan ketulusan perhatian juga.
2.Jadwalkan pertemuan rutin
Bila kebetulan banyak anggota keluarga besar kita tinggal di satu wilayah, ada baiknya buat jadwal pertemuan rutin seperti arisan keluarga dengan tempat yang bergiliran.
3.Liburan atau wisata bareng
Dalam hal ini harus di pertimbangkan ada tidaknya dana, tidak perlu memaksakan diri, tapi sesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota keluarga besar, dan perlu di musyawarahkan dengan matang.
4. Saling kunjung-mungunjungi
Saling berkunjung tak hanya dilakukan di hari raya Idul Fitri, tapi di luar waktu kebiasaan saling mengunjungi amat baik dilakukan, terutama saat kerabat atau keluarga kesusahan atau sakit.
5. Saling beri hadiah atau bingkisan
Saling memberi hadiah akan mengeratkan cinta kasih. Jangan berharap orang lain memberi hadiah lebih dulu, mulailah dari diri kita. Berilah hadiah pada sanak saudara sesuai kemampuan anda
6.Beri bantuan yang dibutuhkan
Dalam kesulitan, seseorang tentu sangat membutuhkan bantuan orang lain terutama dari kerabat sebagai lingkungan terdekat
7.Hindari perasaan buruk
Seringkali sebuah keluarga bermasalah hanya karena prasangka buruk. Akan lebih bijaksana bila semua prasangka itu di klarifikasi langsung pada yang bersangkutan. Jangan langsung disebarkan kemana-mana



