PENDAHULUAN
Saat ini, semua orang menyadari bahwa kesuksesan manusia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual ataupun kecerdasan emosional, melainkan juga ditentukan oleh kecerdasan spiritual. Kecerdasan intelektual diperoleh mmelalui olah akal. Kecerdasan emosional diperoleh melalui olah “jiwa“. Sedangkan, kecerdasan spiritual diperoleh dengan olah qolbu.
Olah qolbu inilah yang acapkali diabaikan oleh manusia. Padahal, qolbu dalam agama adlah sentral perbuatan manusia. Tatkala, manusia acuh untuk memenuhi kebutuhan dasar spiritual (basic spiritual needs), maka manusia akan tertimpa krisis spiritual (spiritual crisis). Krisis spiritual inilah bidang dari semua krisis.
MAKNA HIDUP
Hidup dan kehidupan merupakan misteri. Manusia terlahir bukan atas kehendaknya sendiri. Dari pasangan ibu dan bapak yang bukan pilihannya. Waktu dan tempat kelahirannya pun di luar perencanaannya.
Setelah terlahikan ke dunia, Allah st memberikan kepada qolbu ayah dan ibunya perasaan kasih dan saying yang mendalam kepada anak-anakna. Dengan kasih saying itu, orang tua akan selalu merawat, membesarkan, melindungi serta mendidik buah hatinya. Tidak kenal lelah sepanjang hidupnya, mereka selalu memberikan perhatian dan belas kasih untuk kesuksesan dan kebahagiaan keturunannya tersebut.
Waktu dating silih berganti, tanpa terasa si bati tumbuh menjadi anak-anak, kemudian memasuki usia remaja. Dari remaja menjadi dewasa, setelah itu menjadi setengah baya dan memasuki usia senja, kemudian berakhir dengan kematian, yang seorangpun tidak ada yang tahu kapan ia dating di mana dia menjemput dan apa yang menyebabkan kehadirannya.
Dalam perjalanan waktu tersebut, hidup manusia tidak lpas dari tiga hal, yakni (1) makan dan minum, (2) tidur, (3) berhajat besar ataupun kecil. Ibarat mesin yang membutuhkan bahan baker dan oli. Pada saatnya bahan baker tersebut akan habis dan oli pun harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Seperti itulah gambaran kehidupan manusia. Setiap hari itulah manusia harus diisi dengan makanan dan minuman agar dapat digunakan untuk beraktivitas. Dan pada saatnya makanan dan minuman itu harus dibuang agar tidak menimbulkan penyakit bagi manusia itu sendiri.
Tubuh manusia membutuhkan makanan yang diperlukan untuk menopang semua aktivitas organ tubuhnya. Makanan berfungsi untuk menghasilkan tenaga, mengganti bagian-bagian tubuh yang rusak dan untuk pertumbuhan.
Setelah makanan itu dikonsumsi oleh manusia, kemudian mengalami proses metabolisme di dalam tubuh. Sisa dari metabolisme tersebut dikeluarkan melalui proses pernafasan (respirasi), ekskresi (benda yang dikeluarkan berbentuk air), dan defekasi (benda yang dikeluarkan berbebtuk padat). Proses pernafasan mengeluarkan kabondioksida dan uap air, ekskresi mengeluarkan urine yang berasal dari ginjal dan keringat melalui kulit, serta proses defeksi menghasillkan tinja yang keluar dari lubang anus.
Inilah beberapa hal yang selalu terjadi dalam perjalanan hidup raga manusia. Yakni suatu sistem kehidupan yang sangat rumit, sangat sempurna sekalugus penuh misteri. Dapat kita bayangkan betapa hebatnya Dzat yang menciptakan sistem kehidupan manusia tersebut. Sudah pasti, yang menciptakannya adalah Allah SWT yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan Maha Menciptakan. Dialah yang berada di balik semua kehidupan yang menakjubkan itu. Tidak ada yang terlwatkan dari pantauan dan kekuasaan-Nya. Semua berada di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya.
Namun yang harus dipertanyakan adalah, apakah hanya seperti itu kehidupan manusia? Apakah hidup manusia hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad berupa makan, minum, tidur, dan buang hajat semata? Atau apakah hidup manusia hanya berisi perjalanan sel-sel yang menakjubkan itu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu menggelayut di dalan lubuk hati manusia yang oleh Allah SWT telah dikaruniai akal pikiran.
Para filosof pun mencoba mencari apa arti hidup yang sesungguhnya, yang pada gilirannya kemudian memunculkan jawaban yang berbeda-beda. Schopenhauer (1788-1860) menyatakan bahwa “hidp adalah kehendak”. Berbeda dengan Nietzsche (18444-1900) yang mendefinisikan “Hidup adalah kekuatan. Dan jauh sebelum kedua filosof itu. Imam Al Ghazali (wafat 505 H/1111 M) menyatakan bahwa: “Hidup adalah cinta dan ibadah”.
Kalau kita melihat beberapa pendapat ini, nampak jelas bahwa ungkapan Al Ghazali menggambarkan arti hidup yang lebih menyeluruh. Hidup adalah cinta dan ibadah. Cinta bisa mendatangkan kehendak, dan kehendak bisa memunculkan kekuatan serta sesuatu yang lain di atasnya.
Hidup juga ibadah, artinya hidup manusia untuk beribadah kepada Tuhannya. Ibadah dilakukan atas kekuatan materi (fisik) yang menjadikan seseorang berperilaku baik dan beramal shalih untuk kepentingan pribadi dan mayarakat. Kecerdasan spiritual menguatkan seseorang untuk mengungkap apa yang ada dalam alam serta beberapa nikmat, keindahan, dan tanda-tanda kebeasran Tuhan.
Hidup yang dalam bahasa Arab disebut hayat, biasanya diartikan sebagai suatu kondisi di mana seluruh anggota organ tubuh berfungsi. Tubuh dapat bernafas, bergerak, memerlukan makanan, menerima dan mereaksi rangsangan dari luar, tumbuh dan berkembang biak serta mengeluarkan zat sosa. Manusia dikatakan hidup apabila masih dapat menarik dan menghembuskan nafas, menggerakkan kaki dan tangan, membutuhkan makanan, menerima reaksi dari luar serta dapat berkembang biak.
Bernafas adalah proses mengambil oksigen dari lengkungan yang digunakan untuk membakar zat-zat makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia dan mengeluarkan karbon dioksida dan uap ke dalam lingkungan. Peristiwa pembakaran itu disebut dengan oksidasi. Manusia dikatakan bergerak apabila mengalami perubahan pada posisi tubuh, misalnya berjalan, berlari dan beraktifitas. Manusia menerima dan memberi reaksi terhadap rangsangan (iritabilitas).
Pada umumnya, kehidupan seeorang selalu dikaitkan dengan masih berfungsinya faktor-faktor ini. Sebaliknya pada saat semuanya tidak berfungsi lagi, maka ketika itu ia dikatakan mati. Dan itulah akhir dari kehidupan seorang anak manusia.
Untuk Apakah Hidup di Dunia?
Ketika akan menciptakan manusia, terlebih dahulu Allah SWT memberitahukan kepada para malaikat bahwa makhluk yang akan diciptakan itu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki makhluk Allah SWT yang lain, yakni berupa akal yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada setiap manusia.
Keistimewaan akal ini merupakan bekal bagi anak cucu Adam untuk mengarungi kehidupan dunia, sekaligus dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan hidup di dunia. Dengan akal, manusia bisa mengetahui baik dan buruk. Dengan akal pula manusia memiliki ilmu pengetahuan untuk mengatur dunia.
Dan dengan bekal akal yang sangat dahsyat inilah Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya (wakil Alllah SWT) di muka bumi.
Ini adalah fungsi hidup manusia di dunia. Yakni sebagai khalifah Allah SWT yang dibebani untuk menghiasi kehidupan dunia dengan nilai-nilali kebaikan, seperti keadilan persamaan dan sebagainya.
Dari sini maka, hidup di dunia bisa bermakna bila manusia selalu berusaha untuk menjalankan fungsi khalifah yang dibebankan kepadanya. Hidup akan sangat berarti apabila seseorang selalu menebar kebaikan dalam setiap tingkah lakunya. Yakni perilaku yang selalu membawa kedamaian dan ketentraman pada orang di sekitarnya.
Dalam bentuk yang paling konkrit, usaha ini dapat berwujud dalam bentuk (1) menjunjung tinggi dan menegakkan keadilan, (2) menumbuhkan kepedulian sosial dengan membantu golongan lemah dan tertindas, (3) melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, (4) serta menghiasi diri dengan tingkah laku yang selalu mengedepankan budi luhur, atau yang sering diistilahkan dengan akhlaqul karimah (uraian tentang akhlaqul karimah ini akan dibahas scara khusus).
1. Menegakkan Keadilan
Mengenai pentingnya berbuat adil dengan tegas Al Qur’an menempatkannya sebagai sendi utama agama Islam. Sekaligus memerintahkan umat Islam untuk selalu berbuat adil.
Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya (proporsional). Ini menunujukkan bahwa adil tidak selalu berarti sama, tapi kondisional sesuai dengan siuasi dan kondisi. Bisa adi dalam suatu keadaan keadilan menuntut adanya kesamaan, namun dalam kondisi yang lain ketidak adilan itu justru berpangkal pada perlakuan yang sama tersebut. Misalnya pembagian hadiah dalam sebuah perlombaan antara juara pertama, kedua dan ketiga.
Adil disini mencakup segala hal, adil kepada diri seniri, adil kepada orang lain baik yang seagama atau yang lain agama, adil kepada istri, anak, bahkan kepada musuh.
2. Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Begitu pula hidup akan menjadi bermakana bila seseorang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Membantu mereka yang lamah dan golongan tertindas. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam) sangat menekankan pentingnya menumbuhkan kepedulian kepada sesama yang sangat membutuhkan. Agama sangat menganjurkan untuk membantu mereka yang kesusahan, menghapuskan penindasan, keterbelakangan serta ketidak adilan, baik yang terjadi di ranah publik ataupun domestik.
Dalam bentuknya yang paling nyata, adanya kewajiban zakat dan anjuran sedekah serta infaq bagi orang yang mampu, agar tumbuh kepedulian sosial kepada mereka yang sangat membutuhkan mengenai pentingnya membantu orang dalam kesusahan.
Bahkan membina hubungan sosial lebih utama dari sekedar memperhatikan perbuatan yang manfaatnya hanya dirasakan oleh dirinya sendiri.
Ini artinya bahwa melakukan bakti untuk kemaslahatan masyarakat dengan membantu kaum tertindas serta orang-orang yang sangat membutuhkan lebih utama dari hanya sekedar berdiam diri serta menyepi untuk mencari “kepuasan” pribadi.
Orang yang bermanfaat kepada manusia lain adalah mereka yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Rela berkorban tanpa mengenal pamrih untuk kemaslahatan bersama. Mereka adalah orang-orang yang selalu dibutuhkan oleh masyarakatnya, di mana kehadirannya sangat ditunggu-tunggu dan kepergiannya selalu menyisakan kesedihan.
3. Melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Peran selanjutnya yang dapat diambil untuk mengisi hidup di dunia adalah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan hal yang sangat prinsip dalam agama.
Yang dimaksud dengan amar ma’ruf nahi munkar adalah usaha untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, menghapus segala bentuk kesalahan dan penyimpangan. Karena itu, prinsip ini menjadi sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.
Hanya saja amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Jangan sampai tujuan baik kita menjadi rusak hanya gara-gara kesalaan dalam cara menerapkannya. Ibarat orang memancing, ikan didapat tetapi air di kolam tidak menjadi keruh. Itulah prinsip yang harus dikedepankan dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.



