( Adakah ia berada di sekitar kita? )
M. Kamilun Muhtadi
Ada 10 indikasi sebagai cirri-ciri aliran sesat yang di sampaikan dalam penutupan rakernas Majlis Ulama Indonesia di Jakarta, hari Selasa 06 November yang lalu. Sepuluh indikasi itu adalah:
1. Mengingkari salah satu dari rukun Iman yang 6
2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah.
3. Meyakini turunnya wahtu setelah Al Qur’an.
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al Qur’an.
5. Melakukan penafsiran Al Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedidikan hadits Nabi sebagai sumber ajran Islam.
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan secara syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, Mekkah, Shalat wajib tidak 5 waktu.
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’I seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.
NABI PALSU, NABI GADUNGAN, PENDUSTA, PENGHINA ISLAM YANG HARUS DITINDAK
Ketika Rasulullah SAW wafat, sejumlah kabilah Arab murtad. Yang paling berbahaua, diantaranya, adalah kelompok Bani Hanifah yang dipimpin Musailamah al Kadzdzab. Jumlah mereka mencapai 40 ribu orang.
Pasukan kaum muslimin yang pertama kali menyerang Musailamah dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan ini dapat dikalahkan oleh tentara Musaikamah sehingga lari kocar-kacir dan Ikrimah sendiri gugur sebagai syahid.
Melihat kegagalan pasukan itu, Khalifah Abu Bakar segera mengirim pasukan yang dipimpin langsung Khalid bin Walid, seorang sahabat yang dijuluki Pedang Allah yang Terhunus (Saifullah al Maslul). Psukan Khalid bertemu pasukan Musailamah di medan Yamamah. Pertempuran meletus. Ternyata pasukan Musailamah lebih unggul sehingga mereka berhasil mendisak pasukan Khalid. Bahkan mereka berhasil menyerbut perkemahan kauk Musliman, istri Khalid bin Wali nyaris terbunuh hingga khirnya diselamatkan oleh pengawal.
Menyaksikan kondisi itu, Khalid bin Walid segera mengatur pasukan. Kaum Muhajirin dan Anshar serta para prajurit yang terdiri dari anak-anak muda dipisahkan sesuai kelompoknya masing-masing. Setiap kelo,pok dikepalai sorang komandan. Dengan begitu ia lebih bisa mengontrol kesanggupan masing-masing kelompok.
Ketika dua pasukan kembali bertemu, tentara Muslimin memperhatikan kemempuannya. Satu persatu tentara Musailamah tewas. Melihat prajuritnya berguguran, Musaikamah dan kawan-kawannya gentar. Mereka lari ketakutan dan berlindung di sebuah benteng yang dikenal dengan Kebun Maut.
Tempat ini adalah benteng terakhir Musailamah bersama pasukannya. Pagarnya atinggi dan kokoh. Musailamah dan pasukannya mengunci pintu rapat-rapat. Dari puncak bentengm mereka menghujani kaum Muslimin yang berusaha menerobos masuk dengan panah!



