Rumah

M. Kamilun Muhtadi

Berbicara tentang RUMAH, perhatian kita seringkali lebih tercurahkan kepada hal-hal yang berkaitan dengan pemilihan dan penempatan perabot rumah tangga, pemilihan warna cat, ukuran serta bentuk ruang, hiasan dinding, pagar yang artistik dan lain sebagainya.

Bahkan tidak jarang pula perhatian kita terfokus pada kegiatan-kegiatan men”design” ulang ataupun mengganti peralatan-peralatan dan perabot-perabot yang ada, kendati masih baik ataupun relatif masih baru, misalnya membongkar ruang tamu, meletakkan karpet baru, menambah kamar studi, ada ruang untuk istirahat, mengganti porselen kamar mandi, membangun kolam renang yang lebih besar dan lain-lain yang kesemuanya itu diperkirakan atau diharapkan mampu menggugah suatu nuansa dan muatan psikologik yang menyenangkan. Penataan dan perubahan-perubahan di atas sifatnya sangat fisik belaka, namun memang diakui cukup membantu terciptanya (warna-warni) keasyikan dalam kehidupan rumah tangga yakni menciptakan suasanan yang bisa dihayati dan disukai oleh semua anggota keluarga khususnya oleh penghuni-penghuni ruangan yang bersangkutan. Pendek kata harapannya adalah semua akan leih “Feeling home”, betah di rumah. Padahal yang paling dusukai anak-anak bukanlah hal-hal fisik semata tetapi yang jauh lebih utama yakni situasi pencipitaan sosial ataupun secara sosiologis rumah yang diliputi kebersamaan, kahangatan, rasa aman dan kasih sayang dalam lingkungan pribadi setiap anggotanya sehingga pada akhirnya akan tercapai rumah tangga yang mawadddah wa rahmah.

Penataan sosial tersebut menjadi semakin krusial seperti bagaimana pola hubungan antara anggota keluarga tak terkecuali kakak dan adiknya, dengan pembantu (jika ada), cara berkomunikasi, kekompakan yang bisa ditunjukkan dengan senyuman, jabatan tangan dengan mencium tangan Ibu, Ayah dan kakak serta tak ketinggalan restu Ibu dan Ayah untuk para putra-putrinya. Ada pemberian ‘REWARD’ (hadiah) disamping ada Punishment hukuman yang sangat pedagogis dan bersifat mendidik. Penting pula diingat perlunya diciptakan penataan psikologis seperti misalnya menyangkut masalah emosional, seperti cara membangun empati ataupun rasa simpati, ada (punya) rasa “WELAS ASIH” bisa memahami perasaan, kebutuhan dan penderitaan orang lain. Penataan Psikologi itu amat sangat diperlukan agar suasana rumah yang dihayati tidak kering kerontang melainkan ada “EMBUN SEJUK’ ada rasa senang, gembira atau canda ria tetapi juga ada rasa dan hasrat menularkan kasih sayang, rasa iba kepada sesama.

Dengan demikian maka bila kita berbicara tentang rumah bukan hanya bangunan dan serba perabotannya tetapi lebih dari pada itu, yakni adanya nuansa yang mengikat anggota-angggota keluarga dengan ikatan batin yang tulus, ada jejaring masal / keturunan yang sehat, halus lagi kuat dan juga jalinan kasih sayang serta saling komlementer dilandasi rasa hormat dan saling mencintai.

Mengapa rumah itu harus mendapatkan perhatian kita secara seksama?
Rummah adalah tempat membimbing dan mendidik anak-anak yang pertama dan utama (sebelum lembaga sekolah) agar pengembangan dan perkembangan fisiknya (mulai otot-ototnya), psikologi, sosialnya, kepekaan rasa kemanusiaan dan paling penting adalah Aqidahnya dapat tumbuh secara gradual sesuai dengan perkembangan umumnya, proporsional seiring dengan daya intelegensinya.
Rumah juga sering berfungsi sebagai tempat yang “menyehatkan” jasmani dan rohani serta berfungsi mendorong terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan.

Dalam Webster’s New International Dictionary, kita temukan kata kebahagiaan atau happiness adalah suatu keadaan yang ditandai dengan suasana emosi yang nyaman, rasa aman, senang dan memperoleh kepuasan dalam memenuhi kebutuhan (jadi lebih kepada manajemen Qalbunya / Hatinya).

Adapun kesejahteraan menurut kamus tersebut menggambarkan situasi kerja yang menunjukkan kesuksesan dan kemakmuran (jadi ada kepuasan kerja dan imbalannya).

Dengan demikian dapatlah dikatakan, bahwa hidup sejahtera adalah kehidupan yang mendapat limpahan nikmat Allah yang biasanya bersifat material, sehingga terpenuhi kebutuhan jasmani, sedang hidup bahagia adalah kehidupan yang beroleh rahmat Allah, sehingga timbullah ketenangan dan ketentraman jiwa.

Nah inilah kunci sabda Nabi SAW “Baiti Jannati” (Rumahku sorgaku), sabda pendek yang kepada masing-masing pribadi muslim berkewaiban mewuudkan rumah yang menyenangkan, rumah yang damai dan sejahtera, terciptanya keharmonisan keluarga, suasana yang sehat lahir batin dan selalu ada rasa puas (berkat rahmat Allah) serta ketentraman, kerukunan yang tentram temaran.
Jadi tanggung jawab orang tua meng”ayomi” dam meng”ayemi” anak-anak serta seluruh keluarga: melindungi, memberikan ketenangan, “pendingin” rohani dan mencegah pertikaian, perselisihan, pertengkaran apalagi tindak kekerasan (KDRT). Ingat-ingat bahwa rumah adalah sorga yang semuanya indah menawan hati sehingga melahirkan anak-anak yang CERIA.

Andai saja ada perbedaan-perbedaan diantara suami istri maka haruslah dibicarakan secara perlahan-lahan tanpa suara keras, dibicarakan secara khusus terutama ketika anak-anak sedah tidur. Waspadailah bahwa kita adalah CERMIN bagi anak-anak kita. Ada baiknya kita wujudkan slogan / jargon atau sasanti / semboyan: MLEBU METU OMAH ORA KENO SUSAH, itulah rumah yang surgawi. Caranya?

1. Ingat kepada Allah Ta’ala ketika masuk rumah dan berdo’a
(Allahumma inni as’aluka khairol maulaji wa khairal makharaji Bismillahi walajna wa bismillahi kharajna wa’alallhi Rabbina tawakkalnua).
“Ya Allah, aku memohon kepada Paduka akan kebaikan tempat masuk dan kebaikan tempat keluar. Dengan asma Paduka kami masuk dan dengan asma Paduka kami keluar, serta kepada Allah, Rabb kami, kami bertawakkal.”

Kemudian menyampaikan salam kepada keluarganya (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud R.A).
2. Adapun bacaan keluar rumah sesuai dengan sabda kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah:
“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah wa la haula wala quawwata illa billah”.
“Dengan menyebut asma Allah, aku bertawakkal kepada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Semoga dengan ini semua, kita akan memperoleh hidayah, petunjuk dan bimbingan Allah dalam segala urusan dunia dan akhirat dan akhirnya rumah kita menjadi rumah yang surgawi. Amiin.

Tinggalkan Balasan